|
|
LSP Telematika Testimonial
|
"UJK LSP telematika sangat membantu untuk mengukur kemampuan diri. Ada kebanggaan memiliki sertifikat LSP-Telematika. Sukses untuk semua."
Iwa LPK GRAVITASI
Back to Top
|
|
|
"Dengan adanya sertifikat yg didpt dari LSP-Telematika, sy mendaptkan tambhan kprcayaan dari managerial sy terkait kompetensi yg telah mendpatkan legitimasinya dari status kelulusannya."
Nor Mohammad Idris
Back to Top
|
|
|
"Assalamu'alaikum Wr Wb,
Dengan adanya ujian ini, saya jadi tahu sekecil apa kemampuan saya dan itu saya jadikan sebagai cambuk untuk meningkatkan lagi kemampuan dibidang komputer.
Dan terakhir terima kasih kepada LSP Telematika yang telah menguji saya dengan semurni-murninya.
Wassalam."
Auri Abdul SMKN 2 Indramayu
Back to Top
|
|
|
"Dengan mengikuti sertifikasi sebagai operator komputer, kami dapat mengukur kemampuan kami dan memberikan pembuktian kepada tempat kerja bahwa kita dapat dan mampu untuk menjadi operator komputer. Hanya pelaksanaan uji sertifikasinya membutuhkan sosialisasi lebih awal lagi karena kami tidak semuanya dapat mencerna penjelasan tentang aplikasinya yang hanya sebentar saja. Kami juga berharap agar dari pihak LSP dapat memberikan dukungan saran kepada pihak TUK untuk segera menyediakan layanan internet, karena pada pelaksanaannya memang mebutuhkan dukungan internet."
Yanto Suharyanto BLK Kuningan
Back to Top
|
|
|
Saya Netty Pietersina Engel. Sebagai guru yang telah mengajar selama 19 tahun, saya melihat siswa-siswi kita semakin butuh untuk melengkapi diri mereka, baik secara kualitas maupun pengakuan resmi dari pemerintah. Kebetulan selain mengajar, saya juga Ketua Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMKN 7 Semarang. Tentu saja, saya ingin sekali anak didik saya memiliki kompetensi yang bisa membuat mereka bisa bersaing di pasaran kerja.
Itulah sebabnya, sertifikasi kompetensi sebagaimana dilakukan BNSP dan LSP Telematika sangat terasa manfaatnya. saya melihat, sejauh ini siswa kami yang mendapatkan sertifikat memang terbukti komptensinya. Mereka jadi lebih mudah mendapatkan pekerjaan dengan kompetensi dan pengakuan pemerintah, sehingga daya saing mereka lebih tinggi.
Saya juga sudah menjalani pelatihan asesor beberapa waktu lalu. Selain wawasan bertambah, saya makin menyadari pentingnya seseorang itu tersertifikasi agar bisa survive di dunia kerja. Saya juga berharap kelak dunia industri akan lebih menghargai sertifikasi tenaga kerja. Pemerintah juga sebaiknya menciptakan formula koordinasi yang lebih baik antara Depdiknas, TUK dan KADIN untuk lebih mensosialisasikan uji kompetensi dan manfaatnya. (Lily Bertha Kartika)
2007-04-25 - Netty Pietersina Engel - Ketua Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan SMKN 7 Semarang - 250407
Back to Top
|
|
|
Saya Ivan Jonathan. Saat ini saya bekerja sebagai QA Manager di PT Realta Chakradarma. Banyak sektor industri sudah mulai mengambil standarisasi nasional seperti ISO dan sebagainya. Selain secara kelembagaan, kini setiap industri juga mengharuskan mereka yang terjun disini secara individual, untuk kompeten di bidangnya. Selama ini penilaian kompetensi yang berlaku biasanya tanpa ujian praktek, hanya ujian teori software saja. Apa yang dilakukan oleh LSP Telematika dengan Uji Kompetensi dan Sertifikasi, sangat penting karena kita jadi tahu kompetensi masing-masing secara menyeluruh.
Setelah ikut pelatihan asesor di LSP Telematika, saya merasakan banyak manfaat karena kita jadi belajar banyak tentang proses asesi. Semua hal mengalami pengembangan dan perbaikan, sehingga karenanya penguasaan praktek dan teori asesment itu penting sekali bagi kita sebagai asesor. Menurut saya yang paling penting dalam profesi asesor adalah kita harus punya pertimbangan dan tanggung jawab moral juga. Melihat seseorang kompeten atau tidak harus dari berbagai sisi. Kalau misalnya saya disuruh menilai di sebuah perusahaan dan ternyata disana ada teman saya, bekas atasan, tetangga atau orang yang kita kenal, maka dari sisi sebagai asesor saya berhak menolak untuk mengurangi subjektifitas. Itu bagian dari tanggung jawab moral.
Uji kompetensi dan sertifikasi ini terutama juga sangat baik untuk lulusan SMK. Kalau mereka sudah lulus dan �mau langsung kerja, sertifikasi ini bisa mereka pakai itu. Sertifikasi kalau menurut saya bisa membuat kita jadi bisa survive, masuk pasaran kerja dan diserap untuk jenjang karir. Untuk masa sekarang dan ke depan, menurut saya sangat penting untuk kita punya kompetensi baik secara teori maupun praktek.(Lily Bertha Kartika)
2007-04-25 - Ivan Jonathan - QA Manager PT Realta Chakradarma - 250407
Back to Top
|
|
|
Saya Niken Dwi Wahyu Cahyani. Selain berkarir sebagai Dosen Teknik Informatika di STT Telkom, saya juga menjadi Koordinator MK Jaringan Komputer. Apa yang saya tekuni saat ini sangat menyenangkan. Mungkin hal ini juga berkaitan dengan kesetaraan gender yang sudah semakin baik, sehingga masa depan pria atau wanita yang mempunyai keterampilan di bidang IT akan sama. Menurut saya karir IT bagi wanita juga memberi nilai lebih, karena dapat meningkatkan daya saing dalam mencari kerja, promosi jabatan, juga dalam membantu bersosialisasi. Di luar negeri, menurut yang saya baca, malah para programmer dan testernya adalah ibu-ibu rumah tangga yang mahir dalam membuat kode program. Jadi jangan kaget kalau ada wanita yang berprofesi sebagai technical support.
Saya juga menjadi asesor LSP telematika. Banyak keuntungannya, terutama karena menurut saya masa depan profesi ini akan baik. Untuk orang yang berkarir di dunia pendidikan seperti saya, menjadi asesor juga sekaligus dapat menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang IT yang sifatnya praktis bukan keilmuan. Selain itu, kesempatan untuk melakukan assesment terhadap para pencari kerja dan juga karyawan perusahaan mebuat kami dari lembaga pendidikan dapat mengetahui kebutuhan yang pasti dari industri IT. Peminat jurusan IT sangat banyak, lulusannya pun sudah sangat banyak. Tapi kemajuan IT cepat sekali berubah dan banyak sekali jenisnya, belum sempat mempelajari yang satu yang lain sudah muncul. Untuk itu ada beberapa hal yang penting menurut saya, yaitu cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi, variasi materi ujian dan tentu saja sertifikasi.
Keuntungan tersertifikasi bagi karyawan,sebenarnya banyak. Karyawan jadi dapat mengukur kemampuan dirinya sendiri dan akan termotivasi untuk meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. Mereka juga jadi tahu sejauh apa lingkup kerja yang memang harus dikuasasinya.Jika karyawan tersebut tersertifikasi secara nasional, dia dapat lebih tenang karena dimanapun dia berkerja lingkup itulah yang memang akan dituntut dari dirinya.Untuk karir saya sekarang, sertifikasi kompetensi� memang belum saya rasakan secara langsung manfaatnya, tapi itu karena jenjang karir saya disini diukur dari tingkat pendidikan dan jabatan akademis. Tapi untuk kegiatan saya lainnya, misalnya jika saya terlibat dalam proyek di bidang IT, maka sertifikasi tersebut akan saya gunakan untuk menunjukkan bidang kompetensi apa yang saya miliki.Dan sangat bermanfaat.
Respon mahasiswa saya tentang sertifikasi juga positif. Mereka masih bersemangat untuk mengikuti uji-uji kompetensi sesuai dengan peminatan mereka untuk kebutuhan mencari kerja atau aktualisasi diri mereka masing-masing. Mereka juga sadar bahwa IT sudah banyak mengubah perilaku bisnis dan perkembangan pribadi seseorang. Kalau mereka memilih bidang IT dan kompeten dalam bidang ini mereka akan memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Ya, kadang mereka masih ada yang ragu apakah mereka sudah memiliki cukup kemampuan untuk bersaing dengan teman-temannya yang lain. Tapi semua kan ada prosesnya.� (Lily Bertha Kartika)
2007-05-30 - Niken wahyu Cahyani - Dosen Teknik Informatika STT Telkom - 300507
Back to Top
|
|
|
Saya Widiarta Eko Nugroho. Selain mengajar di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, saya juga Wakil Ketua Unit Pusat Pelatihan dan Uji Kompetensi UKDW. Peluang karir di bidang TI saat ini semakin terbuka, oleh karena itu menjadi tenaga TI yang tersertifikasi , manfaatnya sangat banyak. Selain kemampuan atau kompetensi yang terukur, juga bermanfaat untuk penempatan kerja. Sayangnya, sampai saat ini saya melihat standar gaji bidang TI masih terlalu rendah. Contohnya di Yogya, wah kecil sekali. Hanya sekitar 1 jutaan, ini untuk fresh graduate. Itupun harus bersaing dengan banyak orang. Selain itu, di Yogya lebih banyak lulusannya dari pada lapangan kerja yang tersedia.
Secara keseluruhan kalau di Yogya saya melihat masalah SDM TI ada beberapa, yaitu lulusan banyak, lapangan kerja sempit, kompetensi kurang mendukung dan bukti kompetensi juga kurang.
Kalau melihat gaji tenaga TI yang masih rendah sampai saat ini, tidak heran kalau banyak yang memiliki side job. Tapi bagi saya yang penting adalah disiplin kerja bukan disiplin waktu. Artinya selama orang tersebut mampu menyelesaikan target pekerjaan yang diberikan apalagi kalau mampu menambah profit perusahaan, saya pikir side job, tidak masalah. Dengan catatan tidak mengganggu pekerjaan utamanya. (Lily Bertha Kartika)
2007-06-27 - Widiarta Eko Nugroho - Wakil Ketua Unit Pusat Pelatihan - 270607
Back to Top
|
|
|
Saya Rudi Kurniawan, Wakil III Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan di STMIK AMIK Bandung, serta dosen tetap untuk TI di tempat yang sama. Saya sangat yakin kalau bidang IT semakin lama akan semakin berpengaruh pada segala aspek kehidupan, terutama di bidang industri dan pemerintahan. Dengan menguasai bidang teknologi dan komunikasi akan menuntun kita untuk ikut berkiprah di wilayah global.
Ketertarikan dan komitmen saya di bidang TI juga saya buktikan dengan mengikuti pelatihan asesor di LSP Telematika. Bagi saya, asesor menjadi profesi menjanjikan dalam penambahan materi yang cukup. Selain itu, menjadi asesor memberikan tantangan untuk terus menjaga kualitas dari unit kompetensi yang dikuasai. Dalam pelatihan, kami juga jadi tahu lebih detil tentang SKKNI. Dalam dunia mengajar, dengan mengetahui SKKNI dapat dijadikan bahan arahan pada anak didik sebagai calon tenaga kerja atau yang sudah bekerja agar sadar kualitas yang diharapkan di tempat kerja.
Di Bandung, standar gaji untuk professional TI saat ini berkisar antara 1,2 Juta untuk fresh graduate. Kalau yang sudah pengalaman sekitar 1,7 Juta untuk karir awal. Gaji yang untuk kebutuhan sekarang terhitung kecil. Itulah sebabnya, rata-rata professional TI di Bandung memiliki side job. Masih banyak� dosen di bidang IT yang masih mengajar di sana-sini untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu saya berharap Pemerintah bisa menaikkan tingkat kesejahteraan dosen yang sudah memiliki standar-standar kompetensi. Hal ini juga akan memacu orang untuk berkiprah maksimal di bidang TI.
Secara keseluruhan, saya melihat di Bandung memiliki beberapa masalah terkait SDM TI, misalnya banyak dari mereka yang belum memiliki kompetensi seperti keinginan industri. Disini belum begitu banyak yang mengerti pentingnya sertifikasi untuk masa depan mereka. Padahal, dengan memiliki sertifikasi dengan tingkat unit kompetensi yang lebih tinggi, kita akan memiliki nilai lebih termasuk dalam penghargaan finansial. (Lily Bertha Kartika)
2007-07-13 - Rudi Kurniawan - Wakil III Bidang KK STMIK AMIK Bandung -130707
Back to Top
|
|
|
Saya Agus Tavip Mukti, Wakil Divisi Marketing LPKT Gramedia. Saat ini saya melihat, banyak bermunculan provider yang mendukung share informasi, data dan mobile computing. Fenomena itu membuat kebutuhan akan SDM TI di bidang Networking, Programmer dan Technical Support makin meningkat. Itu pula yang menurut saya menjadi salahsatu contoh betapa penting SDM TI saat ini sebaiknya tersertifikasi. Dengan adanya sertifikasi mungkin akan menjadi salahsatu solusi fenomena pengangguran terdidik yang banyak kita temui saat ini.
Selain itu, sertifikasi merupakan pengakuan kompetensi seseorang pada bidang tertentu, karena jenis kompetensi yang ada dalam dunia TI sangat beragam, sehingga tidak mungkin seseorang mampu untuk menguasai semuanya. Menurut saya, lebih baik ada spesialisasi bidang sesuai kebutuhan industri. Itupun sebenarnya masih sulit memenuhi kebutuhan industri, karena banyak output dari perguruan tinggi tidak seperti yang diinginkan industri.
Tapi sebenarnya harus ada komitmen yang kuat dari industri dalam hal penggunaan SDM TI kita. Di satu sisi, ketika mereka ingin SDM yang memiliki produktifitas tinggi maka harus konsekuen dengan memberikan kompensasi yang sepadan. Jadi tidak membedakan kompensasi berdasarkan dia lulusan luar negeri atau dalam negeri. Yang harus diukur tetaplah kinerja dan produktifitas serta tentu saja kompetensi yang dimiliki.� Masalah gaji inilah yang saya lihat masih menjadi masalah disini, sehingga banyak sarjana kita yang kualitas intelektualnya memadai lebih memilih kerja diluar negeri.(Lily Bertha Kartika)
2007-08-01 - Agus Tavip Mukti - Wakil Divisi Marketing LPKT Gramedia - 010807
Back to Top
|
|
|
Saya Budi Unduk Angkoso. Saat ini saya bekerja sebagai System Integrator di LSP Telematika. Bidang ini sebenarnya awalnya hobi saja, tapi lalu berkembang sebagai profesi. Dan sebagaimana layaknya hobi yang menjadi profesi, saya senang dan sangat menikmati pekerjaan ini.
Sebenarnya kalau melihat SDM TI saat ini, terutama yang muda, secara kemampuan terlihat jauh lebih baik dibandingkan SDM yang usianya lebih tua. Itu yang setidaknya saya lihat ketika menjadi salahsatu juri ASEAN Skill Competition di tingkat seleksi�nasional. Para SDM muda ini beruntung sebab sudah menikmati teknologi yang lebih maju pada saat mulai mendalami bidang ini, sehingga mereka jauh lebih cepat beradaptasi pada teknologi baru dibandingkan kita. Mungkin masalahnya hanya soal jam terbang saja untuk mereka bisa ikut berkompetisi di dunia TI.
Di masa yang akan datang, menurut saya memang dunia TI akan sangat menjanjikan prospeknya, tapi juga tidak mudah untuk bisa berkarir di dalamnya. Peluangnya banyak tapi sangat kompleks karena persaingannya makin ketat. Menurut saya, mereka yang akan mampu eksis di dunia TI nantinya bukan ditentukan dari yang terkuat, tapi yang mampu menyesuaikan diri dengan dinamika di dunia TI. Maka dari itu, sangat penting untuk sejak awal memilih speasialisasi bidang TI yang akan ditekuni, karena itu erat kaitannya dengan menyesuaikan diri pada perkembangan bidang yang kita tekuni itu. Saat ini sampai seterusnya, saya yakin akan selalu ada hal baru yang perlu dan harus dipelajari di dunia TI.
Untuk mendukung karir di dunia TI, sertifikasi itu menjadi jalan yang baik, karena kemampuan kita diakui dan terukur. Dengan komptensi kita yang jelas, akan lebih mudah meraih kesempatan yang tersedia dibandingkan yang tidak memiliki sertifikat. (Lily Bertha Kartika)
2007-08-10 - Budi Unduk Angkoso - System Integrator LSP Telematika - 100807
Back to Top
|
|
|
Saya Tri Wuryanto, Manager TUK LPK Alphabank, Surakarta. Profesi telematika akan semakin berperan di segala lini perusahaan dan sekaligus juga akan mempermudah berbagai layanan perusahaan. Selain itu, profesi telematika juga akan meningkat kebutuhannya seiring kemajuan industri yang membutuhkan tenaga-tenaga tersebut.
Semakin pentingnya profesi telematika itu juga harus diimbangi dengan kompetensi. Disini unsur sertifikasi berperan, karena besar manfaatnya untuk calon karyawan maupun karyawan dalam hal mencari kerja atau meraih peluang kerja lain. Sertifikasi, menurut saya, menjadi alat ukur yang akurat dalam melihat kemampuan seseorang di dalam mengerjakan tugasnya. Dengan adanya sertifikasi, kompetensi seseorang menjadi bisa dipertanggung jawabkan serta sekaligus menambah nilai tawar bagi mereka yang sedang mencari peluang kerja.
Hal penting lain selain sertifikasi untuk bertahan di dunia kerja adalah selalu menambah wawasan serta kompetensi berkelanjutan sesuai perkembangan TIK saat ini. Penting juga untuk selalu menjaga kualitas kompetensi sehingga bisa memaksimalkan knowledge, skill dan attitude. (Lily Bertha Kartika)
2007-10-23 - Tri Wuryanto - Manager TUK LPK Alphabank - 231007
Back to Top
|
|
|
Saya, nama : Juju
Juarsih, tempat kerja : PT. ( Persero) Pelabuhan Indonesia III Cabang Tanjung
Intan Cilacap, Jabatan saya sebagai Asisten Manajer Personalia, ingin
menceritakan sedikit pengalaman mengikuti uji kompetensi telematika (Basic
Office).
Awalnya, PT. ( Persero) Pelabuhan
Indonesia III Cabang Tanjung Intan menerima surat sosialisasi untuk uji
kompetensi bidang telematika, khususnya operator komputer (Basic Office) dari
Lembaga Kursus SWK Cilacap, dengan ember-embel dibiayai BNSP alias Gratis.
General Manager dan Manajer kami mendisposisi surat
tersebut kepada kami “Udk” (Untuk
diketahui) alias diarsip tidak perlu ditindak lanjuti, karena mungkin tidak
mengerti atau tidak tertarik.
Namun beberapa hari kemudian, datanglah petugas dari
SWK menghadap kepada saya dan menjelaskan mengenai program sertifikasi nasional
dan uji kompetensi yang ditawarkan secara mendetail.
Jelaslah sudah bagi saya dan saya tertarik untuk ikut,
lalu saya katakan “ Ya, kita ikut. Namun Jumlah pesertanya masih harus kami
lihat lagi peta kemampuan staf kami”. Kemudian kami berkonsultasi dengan bagian
IT, maka diputuskan kami akan mengirimkan 27 orang untuk mengikuti uji
kompetensi itu. Lalu kami mengusulkan kepada GM dan akhirnya mendapatkan
persetujuan.
Saya merupakan salah satu dari peserta uji kompetensi
operator komputer (Basic Office) tersebut.
Awalnya beberapa peserta enggan untuk mengisi PKT (Form
Pengakutan Kompetensi Terkini) yang diberikan karena beberapa alasan antara
lain : Belum memahami pentingnya sertifikat kompetensi, takut kalau tidak
lulus, untuk apa, sulit apa tidaknya materinya dll.
Sebelum melaksanakan uji kompetensi kami mengundang
pihak penguji dari SWK untuk memberikan pengarahan di kantor kami, supaya
peserta menjadi lebih siap menghadapi uji kompetensi tersebut.
Namun setelah mendapatkan penjelasan langsung dari
Pihak SWK mereka dapat memahami dan mempersiapkan diri masing-masing.
Seumur hidup saya baru tahu dan melaksanakan sendiri
uji kompetensi bidang computer. Saya tidak menyangka materi yang diberikan jauh
lebih sulit dari yang sehari-hari kita kerjakan yang berkaitan dengan kemampuan
komputer yang dibutuhkan.
Tibalah saatnya uji kompetensi dilaksanakan. Saya
melaksanakan tes tersebut pada hari Jumat mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan
pukul 11.30 WIB
Di sana kami diberikan pelayanan yang memuaskan mulai
dari fasilitas untuk ujian sampai dengan makan siang, snack minuman sudah dipersiapkan,
sehingga kami tidak perlu repot-repot lagi membawa atau mencari.
Kesan kami terhadap materi uji kompetensi tersebut :
- Para pegawai kurang familiar
dengan bahasa atau kata-kata yang digunakan dalam soal-soal yang diberikan
- Pada waktu asyik mengerjakan soal-soal, mereka kurang memperhatikan sisa waktu yang ada
- Tidak meratanya kemampuan kompetensi terlihat dari nilai yang sangat ekstrem, mungkin karena
mereka belajar secara autodidak dan dalam pekerjaannya sehari-hari hanya
pekerjaan itu saja yang dilaksanakan, sehingga kompetensi yang lain yang
terkait tidak dipahami / tidak dipelajari
Bagi saya sendiri uji kompetensi ini sangat berarti
dan penting untuk memperhatikan SDM kita menuju globalisasi nanti, sehingga
kompetensi kami mendapatkan pengakuan dan Pengesahan dari pihak yang berwenang.
Kami sangat berterima kasih kepada Lembaga Kursus LSP
SWK yang telah memberikan kesempatan untuk maju kepada kami sehingga kami tahu
kemampuan dan kekurangan kami masing-masing, serta kemampuan mana yang harus
dikembangkan dan dilatih lagi.
2009-03-11 - Juju Juarsih - Asisten Manajer Personalia
Back to Top
|
|
|